Pelemahan Rupiah Kembali Terjadi

Pelemahan Rupiah Kembali Terjadi – Berbagai upaya pemerintah gagal menjaga otot rupiah. Di tengah kenaikan suku bunga The Fed, rupiah kembali melemah. Bank Sentral Amerika Serikat atau dikenal dengan The Federal Reserve (The Fed) baru saja menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2,25%. Kenaikan suku bunga The Fed rupanya masih menjadi beban bagi mata uang garuda. Padahal, spekulasi kenaikan suku bunga The Fed sebenarnya sudah lama diantisipasi pasar. Di pasar spot, Kamis (27/9), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah 0,08% ke level Rp 14.923 dibanding sehari sebelumnya.

Pelemahan Rupiah Kembali Terjadi

Jika dibandingkan dengan akhir pekan sebelumnya, koreksi rupiah mencapai 0,71%. Meski pasar sudah mengantisipasi kenaikan Fed fund rate, rupanya masih ada beberapa isu yang patut diwaspadai. Makanya, mata uang garuda gagal mengungguli the greenback. Isu itu di antaranya adalah perang dagang AS-China, serta arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya. Tingkat ekonomi AS cukup baik. Gubernur The Fed masih melihat ada peluang kenaikan suku bunga pada Desember 2018 dan tiga kali lagi tahun depan, kata Josua Pardede, Ekonom Bank Permata. Untuk mengantisipasi efek kenaikan suku bunga The Fed, Bank Indonesia (BI) juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75%.

Eric Alexander Sugandi, Pengamat Ekonomi ADB Institute, menuturkan, para pelaku pasar finansial global dan domestik hingga BI memang sudah mengantisipasi kenaikan suku bunga AS. Untuk itu, pelemahan rupiah relatif terbatas. Sebelumnya, BI sudah aktif melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga volatilitas rupiah menjelang dan setelah kenaikan suku bunga The Fed. BI juga menyerap dollar AS di pasar melalui sistem perbankan dengan forex swap dan USD time deposit.

Amunisi Dalam Negri

Di tengah berbagai upaya BI, Eric melihat, faktor eksternal masih berpotensi memberi tekanan pada rupiah. Terkadang isu eksternal akan muncul sehingga memberi sentimen negatif ke rupiah. Tetapi, terkadang isunya juga akan mereda, tuturnya. Menurut Josua, pasar akan terus mencermati perkembangan perang dagang AS-China. Sementara di dalam negeri, kebijakan suku bunga BI belum sepenuhnya mendapat respons dari pelaku pasar.

Di samping itu, Josua berharap kebijakan pemerintah untuk menyesuaikan tarif impor melalui PPh (pajak penghasilan) pasal 22 hingga kewajiban pencampuran minyak sawit ke solar sebesar 20% (B20) dapat memperbaiki neraca perdagangan. Untuk mengurangi impor besi dan baja, pemerintah juga akan mengurangi proyek-proyek infrastruktur, imbuhnya. Dengan upaya pemerintah itu, Josua memperkirakan rupiah bisa bergerak di kisaran Rp 14.650-Rp 14.950 per dollar AS hingga akhir tahun.