Matahari Departement Store Mendapat Dana Dari Lipo

Matahari Departement Store Mendapat Dana Dari Lipo – Anak usaha Grup Lippo kembali beraksi. Kali ini giliran PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) yang menggelar aksi korporasi. Jejaring Lippo di bisnis ritel itu bakal membeli kembali (buyback) sahamnya yang beredar di pasar. LPPF bakal menjadi salah satu emiten yang menganggarkan dana terbesar untuk buyback saham tahun ini. Maklum, dana yang dianggarkan untuk menggelar aksi itu maksimal Rp 1,25 triliun.

Targetnya, Matahari bisa menyerap maksimal 7% dari modal disetor dan ditempatkan atau setara dengan sekitar 204,25 juta unit saham. Meski terbilang jumbo, manajemen Matahari yakin aksi buyback tidak akan mengurangi kemampuan mereka untuk menggelar ekspansi usaha.

Memang, berdasar laporan keuangan per Juni 2018, posisi kas dan setara kas LPPF masih cukup besar, yakni Rp 2,502 triliun. Dus, Matahari masih punya cu- kup dana, termasuk untuk menambah investasi modal di PT Matahari Nusantara Logistik (MNL). CEO dan Wakil Presiden Direktur Perseroan Richard Gibson mengatakan, tahun depan mereka akan menyuntikkan dana ke anak usaha tersebut sebesar Rp 500 miliar. Duitnya digunakan untuk membeli fasilitas distribusi multi-fungsi seluas lebih dari 50.000 meter persegi (m). Yang menarik, perhitungan manajemen, pasca buyback laba bersih per saham LPPF bakal meningkat. Per 31 Desember 2017 earnings per share (EPS) LPPF di Rp 654. Nah, jika buyback dilakukan dalam jumlah maksimum, EPS-nya bakal menjadi Rp 703. Walhasil, valuasi LPPF berdasarkan price to earning (PE) ratio bakal terlihat lebih murah. Tambahan lagi, Matahari akan membeli sahamnya di pasar dengan harga maksimal Rp 13.330 per saham.

Harga maksimal saham buyback ini secara langsung memperlihatkan jika manajemen LPPF ingin menunjukkan bahwa harga pasar sahamnya saat ini sudah ke lewat murah. Oh ya, per 27 Juni 2018 saham LPPF ada di Rp 6.900 per saham. Dus, selisih dengan harga maksimal buyback tadi nyaris dua kali lipat.

Jadi, menarikkah untuk masuk ke saham LPPF dengan mencuri momentum buyback? Ternyata jawabannya belum tentu, lho. Aksi buyback memang punya potensi mengerek harga LPPF. Namun belum tentu dalam derajat yang signi kan, apalagi hingga menyentuh harga maksimal di Rp 13.330 per saham dalam waktu singkat. Pasalnya, prinsip yang berlaku dalam membeli apapun juga berlaku untuk buyback saham. Kalau bisa membeli di harga murah, kenapa pula mesti menebus di harga mahal. “Manajemen akan mencermati pergerakan saham, sehingga aksi buyback lebih ditujukan saat penurunan harga,” kata Michael Tjahjadi, Analis NH Korindo.

Senada, Kevin Juido, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas, menyebut, pada periode pelaksanaan buyback pergerakan harga saham cenderung mengalami penurunan. Justru setelah periode pembelian kembali saham di pasar usai, barulah harganya cenderung bergerak naik.

Pola serupa ini misalnya terlihat dari pergerakan harga saham PT Japfaa Comfeed Tbk (JPFA). Kalau lihat pergerakan harganya, saham JPFA baru rebound setelah mereka selesai buyback,katanya. Dus, peminat saham-saham yang di-buyback, dalam hal ini LPPF mesti lebih bersabar sebelum melakukan akumulasi beli. Ia menyarankan investor untuk menunggu dulu keputusan RUPSLB pada 8 Oktober 2018 mendatang sebelum mengambil keputusan.

Catatan lainnya, kata Michael, sentimen buyback semata tidak bisa mengerek harga saham terlalu tinggi. Jika tidak dibarengi dengan pertumbuhan kinerja yang tinggi pula. Nah, soal ini investor nampaknya memang mesti lebih cermat. Pasalnya, pertumbuhan kinerja LPPF sejauh ini terbilang flat.