Adu Strategi Ecommerce Dalam Negri

Pertumbuhan bisnis e-commerce di Asia Tenggara cenderung positif bebera- pa tahun terakhir. Google Temasek eConomy SEA Spotlight memperkirakan, tahun 2017, penjualan e-commerce di kawasan ini mencapai US$ 10,9 miliar. Padahal dua tahun sebelumnya penjualannya baru menembus angka US$ 5,5 miliar. Sementara, di Indonesia nilai transaksi industri e-commerce juga meningkat tajam. Jika tahun 2014 nilai transaksinya sekitar Rp 25 triliun, pada 2016 melonjak jadi Rp 69,8 triliun.

Pada tahun ini, diperkirakan nilai transaksi e-commerce Indonesia mencapai Rp 144 triliun. Artinya dalam empat tahun terakhir rerata pertumbuhan nilai transaksi sekitar 119% per tahun. Pertumbuhan yang menggiurkan itu jelas jadi magnet bagi pemodal, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Beberapa pemain asing membuka cabang langsung di tanah air seperti JD.ID dan Shopee. Sementara, pemain besar sekelas Alibaba memilih menyuntikkan dana ke pemain lokal Lazada dan Tokopedia. Persaingan e-commerce di tanah air pun sudah tentu makin berat. Selain menghadapi serbuan pemain asing, kini ecommerce lokal juga harus bersaing dengan pemain yang telah mendapat beking dana asing. Beberapa e-commerce lokal masih bisa bertahan dan mempertahankan eksistensi. Misalnya Bhinneka.com. Salah satu pelopor e-commerce di tanah air sejak 1993 ini sebelumnya memang hanya fokus sebagai distributor printer dan komputer. Chief Executive Officer (CEO) Bhinneka.com, Hendrik Tio memastikan saat ini perusahaan yang ia pimpin masih 100% lokal. Menurut Hendrik, selama ini manajemen Bhinneka memang lebih membidik investor lokal.

Masih ada kok investor lokal yang bagus dan tertarik ke Bhinneka, ungkapnya. Bagi Hendrik, seharusnya investor asing tak perlu masuk ke bisnis e-commerce Indonesia. Apalagi pemain lokal juga cukup bagus. Namun, ia tak menampik e-commerce di tanah air tetap membutuhkan investor asing. Hanya saja yang terjadi saat ini, baik para pemain dan investor asing dianggap sama pada bisnis e-commerce di negeri ini.

Agar tetap eksis di industri ecommerce pada usianya yang menginjak 25 tahun, Bhineka. com harus jeli melihat celah yang sulit dimasuki pemain asing. Namun demikian, mau tidak mau e-commerce lokal harus siap menghadapi persaingan. Salah satu strategi yang dipertahankan oleh Bhinneka sampai sekarang, adalah mengandalkan klien korporat. Saat ini, porsi klien korporasi mereka mencapai 80%.

Menggunakan Dana Asing

Bhinneka juga masuk sebagai pemasok dalam katalog elektronik Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa (LKPP). Selain itu, Hendrik masih terus mengembangkan toko offlinenya agar tetap ada alternatif bagi konsumen untuk memilih tempat transaksi mereka. “Offline store menjadi seamless omni channel bagi kami, terang Hendrik. Selain Bhinneka, e-commerce lokal yang hingga kini eksis kebanyakan milik grup-grup besar. Misalnya Blibli.com milik Grup Djarum, Mahatarimall.com (Lippo Grup), Blanja.com milik Grup Telkom dan Ruparupa.com milik Grup Kawan Lama. Hadi Wenas, CEO Mataharimall.com menyebut, saat ini penyandang dananya masih murni lokal.

Manajemen tetap terbuka bekerjasama dengan investor asing untuk mengembangkan bisnis e-commerce di Indonesia. Masuknya investor asing menjadi penanda kepercayaan dunia pada potensi pasar digital Indonesia, ujarnya. Mengutip State of E-Commerce IPrice akhir 2017, kata Hadi, Indonesia merupakan negara dengan pangsa trafik mobile tertinggi di Asia Tenggara, yakni di level 87%. Menurut dia, dengan penetrasi telepon pintar yang meningkat, potensi pertumbuhan industri e-commerce semakin besar. Kunci Mataharimall bisa bertahan hingga saat ini adalah dengan menerapkan strategi omnichannel. Artinya tetap member i kan p i l i han kepada konsumen untuk bertransaksi lewat e-commerce murni atau digabung dengan jaringan ritel Matahari. Mataharimall.com memanfaatkan jaringan Matahari Departemen Store, Hypermart, dan lokasi Grup Lippo lain menghadirkan ratusan titik online toko offline (O2O).

Saat transaksi di Mataharimall, konsumen bisa membayar, mengambil barang, dan mengembalikan produk di titik-titik O2O tersebut. Hadi melihat ada empat hal penting agar tetap eksis di bisnis e-commerce. Pertama, memprioritaskan konsumen. Kedua, memfokuskan pada segmen tertentu. Ketiga, memberi produk berkualitas dengan harga terbaik. Keempat, mendekatkan diri dengan konsumen. Berdasarkan studi peta ecommerce iPrice per akhir Juli Mataharimall.com berada di posisi 8 besar. Jumlah pengunjungnya per bulan mencapai 4,67 juta visitor.

Kami optimis terhadap pasar kami di Indonesia, tandas Hadi. Omnichannel juga jadi kekuatan bagi Ruparupa.com. Kami memilih menggaet pihak ketiga untuk optimalkan market baru, kata Budiono, Heaf of Marketing Ruparupa.com. Saat ini Ruparupa masih mengandalkan pendanaan dari kas internal perusahaan. Tapi tidak menutup kemungkinan bekerjasama dengan pihak lain. Pengamat Daniel Tumiwa menyebut, e-commerce yang mendapatkan suntikan dari investor asing masih bisa disebut sebagai pemain lokal.

Misalnya, Tokopedia dan Bukalapak. Sekalipun kedua e-commerce ini sudah mendapatkan investor asing, tapi investor lokal masih punya hak veto dominan. Investor asing itu masuk untuk memantau perusahaan yang mereka suntik. Mereka ingin langsung melihat gerak dan perkembangan bisnisnya, kata Daniel lebih lanjut. Tokopedia, e-commerce bentukan William Tanuwijaya mendapat suntikan dana yang cukup besar dari Alibaba.com asal China pada 2017 lalu. Alibaba menyiapkan dana US$ 1,1 miliar di perusahaan ini. Selain Alibaba, investor asing yang mempercayakan dananya kepada bisnis Tokopedia adalah East Ventures (Jepang), Softbank Ventures (Korea), Cyber Agent Ventures (Jepang) dan beberapa lainnya. Menurut Priscilla Anais, Head of Corporate Communications Tokopedia, fakta ini adalah sebuah validasi bahwa pasar digital Indonsia menarik untuk pemodal global.

Sebagai perusahaan teknologi asal Indonesia, sejak hari pertama Tokopedia meluncur memang harus siap menghadapi persaingan global, katanya. Cara untuk bisa bersaing adalah memaksimalkan pilar-pilar yang dimiliki Tokopedia. Saat ini Tokopedia terdiri dari tiga pilar bisnis: marketplace, teknologi fiansial atau tekfin dengan menjual reksadana dan memberikan pinjaman online, juga digital goods yakni layanan pembayaran seperti tagihan air, telepon, listrik, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, pembelian tiket kereta api, event, hingga voucher gim. Melalui tiga pilar ini, kami ingin menjadi one stop solution bagi pengguna. Kami juga terus berkomitmen menciptakan inovasi lain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, imbuh Priscilla.