Adu Strategi Ecommerce Dalam Negri Part II

Tokopedia mengklaim sudah dikunjungi 78 juta masyarakat Indonesia per bulan. Jumlah ini setara dengan lebih dari setengah pengguna internet di Indonesia. Tahun 2016 lalu, Tokopedia hanya punya satu juta penjual, tapi pada tahun 2018 ini meningkat 400% jadi lebih dari empat juta penjual. Priscilla yakin, suatu hari nanti, internet akan sama atau jauh lebih penting ketimbang listrik. Masyarakat ke depannya tidak lagi menilai ada bisnis offliine dan bisnis online.

Offline dan online saling melengkapi, dan nantinya dua cara ini hanya jadi pilihan kanal transaksi. Teddy Oetomo, Chief Strategy Officer Bukalapak sependapat bahwa Indonesia tengah mengalami pertumbuhan bisnis e-commerce yang sangat pesat, sehingga menarik investor asing untuk berinvestasi.

Bukalapak melihat ini merupakan hal yang wajar dilakukan investor, memanfaatkan peluang pasar. Semakin banyaknya asing yang masuk, memaksa Bukalapak terus berinovasi agar tetap kompetitif. Teddy berpandangan Indonesia itu negara dengan kapasitas ekonomi yang besar, sehingga banyak ruang mengembangkan bisnis bersamasama. Teddy percaya dengan data Kementerian Komunikasi dan Informatika bahwa pertumbuhan pasar e-commerce Indonesia bisa mencapai US$ 32,2 miliar pada 2020. Apalagi pada 2017 lalu, rata-rata pertumbuhan pasar e-commerce mencapai 50% dari 2016. Sedangkan, pertumbuhan bisnis perusahaan yang dibangun Achmad Zaky ini mencapai 100%–300% pertahun.

Saat ini, transaksi mitra Bukalapak per bulan menembus Rp 500 miliar. Adapun jumlah pengguna mencapai 95,92 juta pada Agustus 2018. Bukalapak yang disebut sebagai salah satu perusahaan yang bernilai lebih dari US$ 1 miliar atau unicorn ini, memiliki enam investor, di antaranya Emtek Group, Gree Ventures Tokyo, dan 500 Startups dari Amerika. Meski dapat dana dari investor asing, Teddy menegas kan bisnis Bukalapak tidak menyediakan layanan ekspor atau impor. Produk di Bukalapak merupakan hasil dari UMKM di Indonesia. Bukalapak masih fokus mengembangkan UMKM di Indonesia. Hingga saat ini jumlah UMKM yang telah bergabung di Bukalapak ada 4 juta pelapak dan 50 juta pengguna di seluruh indonesia, kata Teddy.

Hindari Persaingan Bakar Duit

Makin bertambahnya pebisnis e-commerce mendapat sambutan dengan bijak dari para pemain yang sudah eksis di Indonesia. Sekalipun kehadiran pemain baru bakal menghadirkan persaingan yang makin ketat, tapi dengan bertambahnya pelaku bisnis justru mempercepat edukasi pasar. Dengan demikian makin banyak masyarakat yang menyadari kemudahan dalam belanja lewat e-commerce. “Semakin banyak pemain, marketnya makin berkembang, karena semua pelaku usaha pasti menggelontorkan promosi,” ujar Ignatius Untung, Ketua Umum Indonesian Ecommerce Association (idEA). Strategi yang jamak dilakukan oleh pemain ecommerce saat menghadapi persaingan yang tak terelakkan, adalah dengan pemberian diskon. Tapi Ignatius mengingatkan strategi diskon ini merupakan cara yang efektif untuk jangka pendek dan bisa merugikan di jangka panjang.

Saat terjadi perang diskon di industri e-commerce, maka yang akan menjadi pemenang adalah yang punya uang banyak. Sebab, merekalah yang akan kuat menyuplai dana untuk bakar uang. Karena itu, ia menyarankan agar pemerintah segera membuat aturan main bagi para pelaku e-commerce ini. Jangan sampai e-commerce kita terbentuk hanya sebagai satu cara bertransaksi yang murah, jelas Ignatius. Bagi dia, ecommerece lokal harus belajar dari Amazon. Sebab Amazon terkenal bukan karena menawarkan harga murah tapi karena mereka memiliki orientasi kepuasan pelanggan yang luar biasa. Kalau hanya mau mengandalkan harga murah tentu itu tidak akan membentuk pasar ecommerce yang sehat. Selain itu kalau cuma mengandalkan penjualan barang murah tentu akan berat saat harus bersaing dengan e-commerce penjual produk China atau Thailand.